KEUTAMAAN BELAJAR DAN MENGAJARKAN AL-QUR`AN

Dikutip dari kitab Fadhilah Amal pada Bab Fadhilah Al Qur`an yang ditulis oleh Syaikhul Hadist Maulana Zakariyya Al-Kandahlawi Rahmatullah `alaih sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ustman RA yaitu:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”    (HR Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa`i, Ibnu Majah)

Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi mengatakandalam sebagian besar kitab, hadits diriwayatkan dengan menunggukan huruf waw (artinya dan), sebagaimana terjemahan di atas. Dengan merujuk terjemahan di atas, maka keutamaan itu diperuntukkan bagi orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya kepada orang lain. Namun dalam beberap kitab lainnya, hadits itu diriwayatkan dengan menggunakan huruf  aw (artinya atau), Sehingga terjemahanya adalah, “Yang terbaik di antara kamu ialah orang yang belajar Al-Qur`an atau yang mengajarkan  Al-Qur`an.” Masing masing dari keduanya memiliki kebaikan dan keutamaan tersendiri.

Al-Qur`an adalah inti agama. Menjaga dan menyebarkan sama dengan menegakan agama. Karenanya sangat jelas keutamaan mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkannya, walaupun bentuknya berbeda-beda. “Yang paling sempurna adalah mempelajarinya, dan akan lebih sempurna lagi jika mengetahui maksud dan kandungannya. Sedangkan yang terendah adalah mempelajari bacaannya saja. Disebutkan di dalam hadist lainnya oleh Mulla Ali Qori Rahmatullah `alaih, bahwa barang siapa yang mempelajari Al-Qur`an, maka ia telah menyimpan ilmu kenabian di dalam kepalanya. Sahal Tusturi Rahmatullah `alaih berkata “Tanda tanda cinta kepada Allah SWT adalah tertanamnya rasa cinta terhadap Al-Qur`an di dalam hati. Diterangkan dalam kitab syarah Al-Ihya bahwa di antara golongan orang yang mendapatkan naungan Arsy Ilahi ketika hari kiamat yang penuh ketakutan adalah orang yang mengajarkan Al-Qur`an kepada anak-anak dan orang yang mempelajari Al-Qur`an ketika kanak-kanak dan selalu membaca hingga masa tuanya.

Untuk mendapatkan faidah keutaman belajar dan mengajarkan Al-Qur`an tersebut maka para guru di SDIT Andalusia terus menurus di asah kemampuan bacaan Al-Qur`annya (tartil, tajwid, dan makharijul huruf). Sehingga yayasan SDIT Andalusia terus menerus melakukan pelatihan atau bimbingan untuk para guru agar dapat mengajarkan Al-Qur`an dengan baik dan benar sehingga peserta didik mudah memahami tata cara membaca Al-Qur`an. Karena, belajar membaca Al-Qur`an dengan baik dan benar bukanlah hal yang mudah, oleh karena itu dalam membaca Al-Qur`an diperlukan metode yang tepat dan dapat memudahkan proses pembelajaran tersebut.

Mempelajari Al-Qur`an membutuhkan metode agar peserta didik lebih cepat memahami tata cara membaca Al-Qur`an, agar mudah diterima, diserap dan dikuasai oleh peserta didik dengan baik dan menyenangkan. Para guru dan pengurus Yayasan SDIT Andalusia telah sepakat bahwa metode yang baik digunakan untuk peserta didik pada pembelajaran Al-Qur`an adalah metode wafa. Karena  Metode wafa merupakan salah satu cara mengajar Al-Qur`an  yang berbasis otak kanan. Metode wafa biasanya diawali dengan cerita, kisah Nabi dan para sahabatnya atau diawali dengan games maupun ice breaking lainnya. Metode wafa ini memakai nada dan memakai lagi hijaz datar, tinggi, dan rendah. Metode wafa memiliki buku panduan yang digunakan guru dan murid di dalam pembalajaran membaca Al-Qur`an.

Mengajarkan Al-Qur`an bukan hanya tugas para guru tetapi juga tugas orang tua. Orang tua yang mengajarkan anaknya Al-Qur`an adalah sebuah keutamaan. Sebab, orang tua adalah madrasah pertama bagi seorang anak. Allah menjamin keberkahan di akhirat kelak bagi orang tua yang anaknya membaca dan mengamalkan Al-Qur`an.

Di dalam kitab “Himpunan Fadhilah Amal” karya Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi Rah.a bahwa beliau menyebutkan bahwa di dalam Kitab Jam’ul Fawaid dengan riwayat Imam Thabrani Rahmatullah `alaih dari Sayyidina Anas r.a Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mengajarkan anaknya membaca Al-Qur`an, maka dosa-dosanya yang akan datang dan yang telah lalu akan diampuni. Dan barangsiapa mengajarkan anaknya sehingga menjadi hafidz Al-Qur`an, maka pada hari kiamat ia akan dibangkitkan dengan wajah yang bercahaya seperti cahaya bulan purnama, dan dikatakan kepada anaknya, ‘Mulailah membaca Al-Qur`an.” Ketika anaknya mulai membaca satu ayat Al-Qur`an, ayahnya dinaikkan satu derajat, hingga terus bertambah tinggi sampai tamat bacaanya.’”

Dari Sayyidina Mu’adz Al-Juhani r.a, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa membaca Al-Qur`an dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, maka kedua orangtuanya akan dikenakan mahkota pada hari Kiamat yang cahayanya melebihi cahaya matahari seandainya ada di dalam rumah-rumah kalian di dunia ini, maka bagaimanakah perkiraanmu mengenai orang yang mengamalkannya?” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Hakim).

Anak yang membaca dan mengamalkan Al-Qur`an, maka orang tuanya akan dikenakan mahkota pada hari Kiamat. Dimana cahayanya melebihi sinar matahari, seandainya matahari itu berada di dalam rumah kita, maka tidak dapat dibayangkan betapa terangnya cahaya tersebut.

Jika orang tua pembaca Al-Qur`an akan mendapatkan pahala seperti itu, maka tidak dapat dibayangkan bagaimana pahala pembaca itu sendiri. Tentu akan memperoleh derajat yang lebih tinggi. Orangtua mendapatkan pahala tersebut karena dialah yang telah melahirkannya dan mendidiknya.

Adanya matahari di rumah dalam hadits di atas menunjukkan maksud yang sangat halus, bahwa jika matahari begitu dekat, tentu cahayanya semakin terasa, dan setiap sesuatu yang selalu ada di dekat kita akan menumbuhkan kecintaan kita terhadapnya.

Jaraknya yang jauh menjadi asing bagi kita. Namun jika setiap saat selau di dekat kita, timbullah keakraban dan kecintaan. Oleh sebab itu, selain ada isyarat keutamaan cahaya mahkota juga ada isyarat tentang kecintaan. Setiap orang mendapatkan manfaat dari sinar matahari, namun jika manfaat itu diberikan kepada seseorang, tentulah hal itu merupakan kebanggaan bagi pemberinya.

Imam Hakim Rahmatullah `alaih meriwayatkan dari Sayyidina Buraidah  r.a. bahwa Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang membaca Al-Qur`an dan mengamalkannya, maka akan dipakaikan kepadanya sebuah mahkota yang terbuat dari nur. Dan kedua orangtuanya akan dipakaikan dua pasang pakaian yang indah tiada bandingnya di dunia ini. Orangtuanya akan bertanya kepada Allah, “Ya Allah, mengapa kami diperlakukan seperti ini?” Jawab Allah, “Ini adalah pahala bacaan Al-Qur`an anakmu.”

Yayasan SDIT Andalusia adalah yayasan yang  sangat mengutamakan pembelajaran Al-Qur`an dan metode mengajarnya juga sangat baik dan menarik sehingga sangat diminati dan dinanti PPDBnya oleh masyarakat parepare, banyak orang tua yang memasukkan anaknya untuk menempuh pendidikan di SDIT Andalusia Parepare.

Demi mendapatkan fadhilah atau keutamaan membaca Al-Qur`an, kita mesti konsentrasi dan khusyuk dalam membaca Al-Qur`an. Membacanya seolah-olah kita sedang mendengar bacaan Al-Qur`an dari Allah SWT langsung. Para Ulama telah menulis, ada enam adab lahiriyah dan enam adab batiniyah dalam membaca Al-Qur`an, yaitu:

A. Adab Lahiriyah

1.Membacanya dengan penuh rasa hormat, ada wudhu dan duduk menghadap kiblat.

2.Tidak membacanya terlalu cepat, tetapi dibaca dengan tajwid dan tartil.

3.Berusaha menangis,walaupun terpaksa berpura-pura menangis.

4.Memenuhi hak ayat-ayat adzab dan rahmat sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya.

5.Jika dikhawatirkan akan menimbulkan riya’ atau mengganggu orang lain, sebaiknya membacanya dengan suara pelan. Jika tidak, sebaiknya membacanya dengan suara keras.

6.Bacalah dengan suara yang merdu, karena banyak hadits yang menerangkan supaya kita membaca Al-Qur`an dengan suara yang merdu.

B. Adab Batiniyah

1.Mengagungkan Al-Qur`an di dalam hati sebagai kalam yang tertinggi.

2.Memasukan keagungan Allah swt dan kebesaran-Nya karena Al-Qur`an adalah    kalamnya.

3.Menjauhkan rasa bimbang dan ragu dari hati kita.

4.Membacanya dengan merenungkan makna setiap ayat dengan penuh kenikmatan.

5.Hati kita mengikuti ayat-ayat yang kita baca. Misalnya, apabila membaca ayat-ayat rahmat, hendaknya hati kita merasa gembira dan senang. Sebaliknya ketika membaca ayat-ayat adzab, hati kita hendaknya takut.

6.Telinga benar-benar ditawajjuhkan atau fokus seolah-olah Allah sendiri sedang berbicara dengan kita dan kita sedang mendengarkannya.

 

Penulis : Sahrul, S.Pd.